Langsung ke konten utama

Separuh Langit Itu Telah Menangis

Separuh Langit Itu Telah Menangis

Uap - uap itu telah menuju singgasananya

Jangan anggap singgasana ini semegah milik Ratu Bilqis
Bukan.
Kemudian,
Bola bening itu jatuh ke bumi
Awalnya hanya sebuah
Lalu diikuti beberapa hingga begitu banyak
Kuberi tahu, tak usah kau menghitunganya
Karena mereka datang tak sendirian
Mereka bergerombol
Mungkin langit tak kuasa mengandungnya terlalu lama
Hingga harus merelakannya jatuh bersama - sama
Pendaratannya pun tak semuanya mulus
Beberapa telah ditunggu lalu ditangkap oleh lembutnya daun waru
Mengalir melalui tangkai daun hingga batangnya yang paling pangkal
Lalu dengan lembut memeluk tanah di bumi itu
Dan hilang. Lebur dengan yang lain
Sisanya?
Ah, mereka terlalu payah
Sama sekali tak ada yang menyambutnya
Mereja terjun bebas dari sang singgasana menuju daratan yang tak datar itu
Mungkin mereka kesakitan
Hingga harus pecah seketika begitu kakinya tak kuasa bertumpu dengan baik

Mereka mengguyur Karangmojo

Hanya Karangmojo
Kupikir mereka terlalu malu untuk bertamu di kawasan sekitar
Entahlah.
Tapi aku mendengar sebuah bisikan
Wonosari iri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tuan dan Nyonya yang Rendah Hati

Tuan dan Nyonya yang Rendah Hati Sang waktu bukan saja merangkak Ia telah mampu berlari Dalam pelariannya, ia meninggalkan jejak Helai demi helai rambut yang dulunya legam Satu per satu kini mulai memutih Ada seseorang disana yang sungguh setia dengan kursi rodanya Matanya lesu, pilu Dia sekalipun tak pernah berkata kepadaku, "aku menyayangimu" Namun kerut di dahinya telah lebih daripada sebuah saksi Di sisi lain di sudut rumah ini Dia tak pernah beranjak dari tempat keramatnya Sering aku mencium aroma sangit dari badannya Terkadang wajahnya penuh coreng moreng angus hitam Tapi tak terbantahkan, pelukan erat darinya seribu kali lebih hangat dari cashmere asli ngeri Batara Ibu, Kapan pun kau tetap indah Jadi kalau orang bilang aku cantik, tentu itu adalah warisan darimu Teruntuk Ayah Tetaplah jadi Tuan terbijak untuk para Nona dan satu - satunya Nyonya di gubuk kecil kita Maaf masih harus terus merepotkanmu untuk melindungiku meski kini usiamu telah senja ...

Kenapa Rindu

Kenapa Rindu Kenapa aku harus rindu? Sedang jarak terlaku sukar untuk bisa kurengkuh Benarkah langit mampu mempertemukan rindu? Sedang rindu - rindu itu tak selalu berpasangan Beberapa rindu ditolak Pedih. Namun kenapa lagi - lagi aku harus rindu kepadamu? Sedang aku tahu rindumu terlalu liar untuk berkelana Tanyalah, kepada sebarisan pohon jati sepanjang Gunungkidul - Klaten Aku banyak berceloteh kepada mereka Sayang, mereka enggan menggubrisku Mereka tampak acuh Berlari. Menjauh. Mereka hanya melihat ke atas, nampak angkuh Hanya ketika angin membelai ubun - ubun mereka Mereka akan bersedia membungkuk Sebentar saja Kemudian kembali ke tabiat mereka Oh, aku hampir saja lupa Aku juga sering bersenandung kepada angin Di setiap hembusannya sebelum pukul 9 pagi hingga kumandang azan di senja hari Namun kupikir angin tak mau menyimpan beban Segera setelah itu, angin menebarkan senandung rinduku Apakah sampai kepadamu? Maaf aku terlalu b...

Pada Senja di 3 Rakaatmu

Pada Senja di 3 Rakaatmu Lalu, adakah suatu perkara yang membuatmu enggan until pergi ke surau itu? Tengoklah sejenak ke ufuk barat Semesta mendukung Mentari mengalah Dia rela bertransformasi menjadi senja dalam sesaat Semburat jingganya digores malu Meneduhkan sepanjang jalan setapak kecil itu Agar perjalananmu, tak kau rasa terik Kemudian kicauan burung Atau rengekan kambing Pun ocehan sapi dan para kerbau Binatang - binatang itu menjeda senandung mereka Agar takbir yang dilantunkan sang imam senantiasa terdengar jelas di telingamu Dan angin hanya berhembus santai Tapi hembusannya teratur Masuk ke dalam tubuhmu lewat lubang tubuh yang tak kasat mata Menyerok tumpukan sampah sampai kepada ampasnya dari isi otak dan hatimu Digenggamnya kuat - kuat, dan begitu sudah ada di luar tubuhmu, angin mengaburkannya Begitulah Hingga pada saat kau mengangkat kepala dari sujud terakhirmu bebannya telah berkurang beberapa tingkat Apakah kau merasa ringan ? Bersyukurlah Karen...