Langsung ke konten utama

Kenapa Rindu

Kenapa Rindu

Kenapa aku harus rindu?
Sedang jarak terlaku sukar untuk bisa kurengkuh
Benarkah langit mampu mempertemukan rindu?
Sedang rindu - rindu itu tak selalu berpasangan
Beberapa rindu ditolak
Pedih.
Namun kenapa lagi - lagi aku harus rindu kepadamu?
Sedang aku tahu rindumu terlalu liar untuk berkelana
Tanyalah, kepada sebarisan pohon jati sepanjang Gunungkidul - Klaten
Aku banyak berceloteh kepada mereka
Sayang, mereka enggan menggubrisku
Mereka tampak acuh
Berlari.
Menjauh.
Mereka hanya melihat ke atas, nampak angkuh
Hanya ketika angin membelai ubun - ubun mereka
Mereka akan bersedia membungkuk
Sebentar saja
Kemudian kembali ke tabiat mereka
Oh, aku hampir saja lupa
Aku juga sering bersenandung kepada angin
Di setiap hembusannya sebelum pukul 9 pagi hingga kumandang azan di senja hari
Namun kupikir angin tak mau menyimpan beban
Segera setelah itu, angin menebarkan senandung rinduku
Apakah sampai kepadamu?
Maaf aku terlalu banyak bertanya
Aku hanya rindu
Entah.
Bagaimana denganmu?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tuan dan Nyonya yang Rendah Hati

Tuan dan Nyonya yang Rendah Hati Sang waktu bukan saja merangkak Ia telah mampu berlari Dalam pelariannya, ia meninggalkan jejak Helai demi helai rambut yang dulunya legam Satu per satu kini mulai memutih Ada seseorang disana yang sungguh setia dengan kursi rodanya Matanya lesu, pilu Dia sekalipun tak pernah berkata kepadaku, "aku menyayangimu" Namun kerut di dahinya telah lebih daripada sebuah saksi Di sisi lain di sudut rumah ini Dia tak pernah beranjak dari tempat keramatnya Sering aku mencium aroma sangit dari badannya Terkadang wajahnya penuh coreng moreng angus hitam Tapi tak terbantahkan, pelukan erat darinya seribu kali lebih hangat dari cashmere asli ngeri Batara Ibu, Kapan pun kau tetap indah Jadi kalau orang bilang aku cantik, tentu itu adalah warisan darimu Teruntuk Ayah Tetaplah jadi Tuan terbijak untuk para Nona dan satu - satunya Nyonya di gubuk kecil kita Maaf masih harus terus merepotkanmu untuk melindungiku meski kini usiamu telah senja ...

Pada Senja di 3 Rakaatmu

Pada Senja di 3 Rakaatmu Lalu, adakah suatu perkara yang membuatmu enggan until pergi ke surau itu? Tengoklah sejenak ke ufuk barat Semesta mendukung Mentari mengalah Dia rela bertransformasi menjadi senja dalam sesaat Semburat jingganya digores malu Meneduhkan sepanjang jalan setapak kecil itu Agar perjalananmu, tak kau rasa terik Kemudian kicauan burung Atau rengekan kambing Pun ocehan sapi dan para kerbau Binatang - binatang itu menjeda senandung mereka Agar takbir yang dilantunkan sang imam senantiasa terdengar jelas di telingamu Dan angin hanya berhembus santai Tapi hembusannya teratur Masuk ke dalam tubuhmu lewat lubang tubuh yang tak kasat mata Menyerok tumpukan sampah sampai kepada ampasnya dari isi otak dan hatimu Digenggamnya kuat - kuat, dan begitu sudah ada di luar tubuhmu, angin mengaburkannya Begitulah Hingga pada saat kau mengangkat kepala dari sujud terakhirmu bebannya telah berkurang beberapa tingkat Apakah kau merasa ringan ? Bersyukurlah Karen...