Apa Kabar, Puisi ?
Aku merindumu
Kepada seuntai sajak di senja hari
Atau kepada sebait sajak di secarik kertas yang lusuh
Dan kepada sebuah sajak ketika hujan turun
Katakan, aku punya sakit dengan tingkat stadium berstatus siaga
Celaka. Aku tak punya penawarnya
Tapi kurasa, cukup bertemu denganmu maka sakitku akan sembuh
Lalu kapsul kapsul hijau itu akan kubuang
Biar jadi limbah saja
Terdaur ulang secara alami
Biarkan melebur di perut bumi yang kupijaki
Berubah jadi humus sehingga tanahnya lunak
Karena aku ingin berlari, sesungguhnya
Kencang, cepat, dengan lompatan tinggi
Tapi aku punya masalah dengan waktu
Dia meleleh
Detik detik itu kian melamban
Merangkak saja
Aku terjebak disebuah masa dalam wadah yang cekung
Berbelit
Membuatku harus menghabiskan waktu dalam lingkaran berjubel ini
Membuatku dengan sangat terpaksa berbaur dengan kaum milenial zaman sekarang
Oknum manusia abad ke-21 yang telah melek teknologi berlebih
Kaum omnivora yang tak jarang ber ego sangat tinggi
Reputasi adalah segalanya bagi mereka
Toleransi ?
Lupakan saja
Mereka melabeli hal itu di nomor antrean terakhir
Dan aku benar - benar berhadapan dengan mereka akhir - akhir ini
Oh, adakah kursi kosong?
Kuingin menyandarkan kepala sebentar
Kurasa pening ini semakin berdenyut
Payah, sakitku kambuh
Ragaku terkoyak
Batinku meronta
Untunglah, mendung menggelayut
Di detik ini secara tiba - tiba
Dan artinya, kubisa bersua denganmu
Percayalah. Sakitku telah hilang
Aku sembuh
Segera begitu jemariku beradu dengan pena hitam di lembar putih itu
Sebait sajak akhirnya tertulis lagi
Lalu saling bersambung menjadi beberapa baris
Di luar mendung tak lagi pekat
Tapi hujan semakin menjadi saja
Dan aku bersyukur
Karena dikata, hujan selalu membawa berkah
Puisiku, kau terlahir kembali
Komentar
Posting Komentar